Jumat, 24 Mei 2024

Boneka yang Berubah Bentuk

 .com/img/a/

    Ketika berusia 40 tahun, Franz Kafka (1883-1924) yang memutuskan tidak menikah dan tidak memiliki anak pernah
mengunjungi taman di Kota Berlin. Di taman itu, ia bertemu seorang anak perempuan yang sedang menangis karena
kehilangan boneka kesayangannya. Kafka membantu sang gadis kecil mencari tetapi usaha tersebut tidak membuahkan
hasil. Lantas, Kafka sepakat dengan si gadis kecil untuk bertemu lagi di taman itu esok hari agar bisa mencari bonekanya
yang hilang.
    Keesokan harinya saat Kafka dan si gadis kecil masih gagal menemukan boneka tersebut, Kafka memberikan surat
yang “ditulis” oleh bonekanya. Dalam sepucuk surat itu, si boneka berkata, “Jangan menangis. Aku sedang pergi
menjelajahi seisi dunia. Aku akan mengirimkanmu surat tentang petualanganku.” Kisah ini kemudian berlanjut hingga
menjelang akhir hidup Kafka. 
    Setiap kali Kafka bertemu dengan si gadis kecil, Kafka menulis surat yang mengisahkan tentang petualangan si boneka
berkeliling dunia. Kafka berusaha menulis dengan bahasa sederhana supaya mudah dipahami si gadis kecil hingga
gadis itu merasa sangat takjub. Suatu hari, Kafka kembali ke Berlin dan memberi gadis kecil sebuah boneka. Dia lalu
berkata "ini tidak terlihat seperti bonekaku,” ketika melihat boneka yang dibawa Kafka.
Mendengar perkataan itu, Kafka lalu menyerahkan sepucuk surat yang “ditulis” si boneka. Isinya sebuah kalimat,
“Perjalanan telah mengubahku (travels has changed me)” Si gadis kecil lantas memeluk boneka barunya kemudian
membawanya pulang dengan perasaan gembira. Setahun kemudian, Kafka meninggal dunia.

    Beberapa tahun berselang, gadis kecil yang sudah dewasa itu menemukan surat dalam bonekanya. Sebuah surat kecil
lengkap dengan tanda tangan Kafka yang berbunyi,
“Segala sesuatu yang kamu cintai mungkin bisa hilang, tetapi pada akhirnya cinta akan kembali dengan cara yang lain.”

Franz Kafka ( 3 Juli 1883 - 3 Juni 1924 ) 

Fakta tentang Kafka
Cerita Kafka, gadis kecil dan boneka yang hilang telah diceritakan oleh berbagai sumber dibelahan dunia. Konon Dora
Diamant, teman di akhir hidup Kafka lah yang pertama kali menceritakannya. Surat - surat Kafka memang tidak
pernah ditemukan secara fisik. Namun cerita Kafka memiliki sejarah terhormat dikalangan sastrawan, dan telah
diceritakan dalam banyak bahasa dan versi berbeda. 

Sumber :
https://berandakota.com/2020/08/19/kafka-dan-surat-surat-boneka/
https://www.arlt-foundation.org/blog-post/kafka-and-the-doll-traveller https://takselesai.com/2021/12/16/kafka-gadis-kecil-dan-surat-dari-boneka/ https://www.snopes.com/fact-check/franz-kafka-doll-girl-story/

Sabtu, 18 Mei 2024

Si Doel Anak Sekolahan "tapi bodoh"

 

Doel hanya bisa terdiam dan menunduk, setelah beberapa kali memberikan pengertian bahwa Psikotes yang akan dijalaninya besok hanyalah formalitas dari perusahaan. Dengan keras babe tetap pada pendiriannya, jika Psikotes hanya untuk menguji kejujuran si Doel maka tidak usah datang ke perusahaan itu. Karena babe selalu menanamkan kejujuran pada anak-anaknya, "jujur, jujur, jujur, biar hidup kite kagak hancur". Begitu kira-kira jawaban babe Sabeni dengan logat kental betawi. 

Seketika, aku yang sedang menonton pun emosi melihat si Doel terlihat menyerah. Seolah si Doel yang di juluki si tukang insinyur itu kehilangan ilmunya. Kalah dengan babenya yang sama sekali tidak mengerti apa-apa, bahkan tulis baca saja tidak bisa. Bukankah seharusnya si Doel yang keras menjelaskan bahwa ini penting untuk diikuti agar bisa diterima menjadi pegawai di Perusahaan tersebut.


Ada lagi adegan yang lebih membuat penonton darah tinggi. Ketika Doel membawa pulang selembar surat dengan wajah sumringah, seisi rumah terasa meriah ketika Doel mengabarkan Doel diterima kerja di perusahaan dan ditempatkan dibagian mesin, setelah berbulan-bulan melayangkan surat lamaran diberbagai perusahaan. Namun Babe kembali menentang dengan keras karena jauh ditengah laut, di Kepulauan Natuna. Alasan Babe sangat sederhana, si Doel anak laki-laki satu-satunya. Jika Babe, Nyak atau Atun adik si Doel sakit siapa yang akan mengabari? Jaraknya terlalu jauh dari Jakarta. Si Doel kembali diam dan menunduk, sepeti biasa. Namun kali ini sedikit kecewa.


Aku yang menonton geram, ingin rasanya ku bantu Doel menjelaskan. Mungkin perasaan ku tak jauh beda dengan penonton lainnya. Aku merasa Doel terlalu "lunak". Bukankah selama ini Babe ingin betul Doel diterima bekerja di perusahaan besar, kemudian ditempatkan dibagian mesin. Tapi setelah ada kesempatan dan panggilan kerja malah Babe sendiri yang banyak persyaratan.

Itu pemikiranku ketika menonton episode Si Doel Anak Sekolah pertama kali, ketika aku masih duduk di bangku SMP. Sinetron yang di sutradarai Rano Karno itu masih jadi favorit ku sampai kini. Aku dan anak-anak ku masih sering menontonnya lewat kanal Youtube ataupun Tiktok. 

Aku kemudian paham bahwa Doel hanya mempertahankan satu hal. Doel bisa saja menjelaskan panjang lebar apa arti formalitas dalam Psikotes yang akan dia jalani. Bahkan mungkin saja bisa di tes ke bang Mandra dihadapan Babe, karena Doel pun cukup ilmu untuk itu. Doel juga mampu mengambarkan sejauh apa Pulau Natua, dan bisa sebutkan besaran gajinya supaya Babe luluh. Tapi Doel lebih memilih dianggap "bodoh" oleh penonton dari pada meninggikan suara dihadapan orang tuanya. Babe dan Nyak si Doel memang tak pandai tulis baca, mereka pun tak pernah bepergian ke luar Jakarta, apalagi ke Natuna. Namun satu hal yang Doel percaya bahwa orang tuanya berhak atas adab yang baik darinya. Itu saja!

Sejenak aku ingat Kafka dan boneka, aku seperti sedang bercermin saja. Sudut pandangku berubah seiring waktu dan usia. Seperti bentuk boneka yang diberikan Kafka, perjalanan dan cerita dalam surat-suratnya pun merubah bentuknya.

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ. 

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Umar ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya,’” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Sumber: https://www.nu.or.id/tasawuf-akhlak/9-hadits-tentang-keutamaan-berbakti-pada-orang-tua-KrRhi

Sabtu, 04 Mei 2024

Seperti Ini




Merayap, berkumpul, lebur jadi satu dibawah bumi bercelah.

Terbang, menjalar berarak pongah dibawah naungan sejuk biru kanvas bumi

Bentuknya berubah -  ubah

Lalu pecah, berderai, berserakan diantara sahutan gemuruh

Sesa'at sunyi tenggelam...

Sepi yang lelah terlelap berselimut kelam


Perlahan hujan yang memikat bersenandung dalam irama rintik

Bernada datar dalam pagutan suasana lembab

Menetes, gemulai bermain sebelum jatuh

Berdecak, tergenang, kemudian mengalir jauh

Jauh....kemana dia mau


Risa

Kahumpuang, 9 November 2009

Pejuang Proklamasi dan Sepatu yang Tak Terbeli

                                                                                                                                   Muhammad ...