Kamis, 28 September 2023

PRIA IDAMAN



Butuh banyak kekuatan menceritakan ini, cerita yang terkadang membuat suasana hati menjadi resah, seakan-akan aku bukanlah manusia yang bersyukur dengan semua yang ku miliki sekarang.  Sesekali, ku buka kotak usang bersemayamkan kenangan lama, ketika kami berjalan bersama di ujung senja merah penuh romansa. Ketika nelangsa berubah menjadi sorai gembira dan gundah pun berganti kidung sarat makna. Sa'at pundak itu siap menyambut lelah, seketika sedih terbasuh hangat pelukan.


Dia adalah tentang hidup dengan perjuangan panjang, tentang mimpi yang remuk dan mati dalam genggaman, demi menghidupkan keinginan jiwa yang lain.

Dia adalah pahlawan bagi seorang bocah perempuan, Kusebut dia BAPAK.


Bapak hanya pria biasa, sekilas tak ada yang istimewa.

Dengan seragam merah putih yang hanya empat tahun saja menemaninya, sudah jelas bapak bukan pria berpendidikan tinggi atau akademisi. Sampai hari ini tak pernah kutemukan selembar Ijazah bertuliskan namanya. Bapak juga bukan pria berada jika Motor Honda cub 70 alias Astrea bulan disingkat asbul, menjadi tunggangannya sejak bujangan. Tapi Bapak memberiku sebuah sepeda motor (tentu lebih bagus dari motor Bapak) supaya lebih leluasa pergi bekerja.

Bapak tidak pernah punya telepon genggam apalagi smartphone yang canggih itu. Bapak juga hanya punya satu buah dompet kulit dengan bau yang sangat khas dan lusuh, yang sudah bertahun-tahun tak pernah diganti. Tak satupun barang mewah yang Bapak ku punya. Seingatku, Bapak hanya punya satu buah jam tangan yang sudah kusam besinya, retak dan penuh debu dalam lingkarannya. Dan jam tangan itu hanya  akan dipakai ketika hari-hari penting dan istimewa saja.


Dengan kesederhanaan yang melekat dengan dirinya, maka mustahil bagi kami sekeluarga hidup bermewah-mewah. Namun sebagai Pahlawan superior, tentu tak kan mungkin Bapak biarkan kami tidak bahagia. Bapak selalu punya cara melakukan itu semua. Meski jajanan termewah kami hanya semangkok bakso atau sepiring sate yang dibeli dengan porsi setengahnya, supaya bisa cukup untuk kita semua. Bahkan martabak Mesir H. Wan yang tersohor itupun juga sama nasibnya. Tapi hebatnya Bapak, kami tidak pernah merasa kelaparan dan kekurangan.

Bapak juga selalu membuat hari-hari pertama sekolah kami bersemangat pada setiap tahunnya. Karena pasti akan ada kotak pensil baru lengkap dengan isiannya. Sepatu sekolah dan tas baru akan Bapak pastikan awet dan tahan banting anti badai petir selama setahun penuh. Jangan harap semua itu akan terlihat lucu dengan model feminin, karena tidak mungkin bagi kami membelinya kembali ditahun yang sama, semua sudah terukur dengan baik oleh Bapak. Pada sa'at pembagian rapor juga menjadi penentu, karena perolehan angka sembilan dan delapan nilai rapor kami berbanding lurus dengan jumlah uang yang akan kami peroleh. Begitulah cara Bapak menghargai kerja keras dan memotivasi belajar kami dan juga rasa terima kasih Bapak kepada kami yang telah mengobati rasa penatnya. Wajah Bapak akan berbinar ketika angka sembilan muncul dirapor kami, Bapak akan senyum dan menatap dalam.

Aku ingat Bapak pernah membawaku ke toko buku untuk membeli kamus Bahasa Indonesia, hanya karena aku bertanya arti sebuah kata malam itu. Bapak yang tidak ingin mati gaya karena tidak tahu maknanya, dan tentu saja Bapak tidak ingin aku seperti dirinya. Mungkin Bapak tidak tahu maknanya tapi Bapak akan pastikan ditangannya selalu ada solusi.

Kami pun selalu dibawa berlibur setiap tahunnya, ibarat pegawai kantoran, Bapak akan ambil cuti dari kerjanya untuk kami liburan keluarga nonton pacuan kuda, yang berjarak tiga kilometer dari rumah kami. Bapak sangat bersemangat jika hari itu tiba, kami dibawa serta dan Bapak sangat gembira. Bahkan sampai seragamku berubah putih abu-abu aku tetap nonton pacuan kuda, bersama Bapak. Pakaian barupun juga akan kami dapat satu kali dalam satu tahun, baju lebaran. Bapak akan ajak serta kami berkeliling toko yang sama setiap tahunnya, bahkan toko dan pemiliknya sampai sekarang masih ada. Dan Bapak selalu menawar diangka yang tepat, karena semua sudah terukur dengan baik.


Bapak telah bekerja keras tanpa jeda untuk itu semua. Seringkali ku lihat kuku kaki dan tangannya menghitam, bekas pukulan palu yang salah sasaran. Kulit tangan dan kaki yang kasar, legamnya kulit kering yang bermandi matahari, menjadi saksi apa yang kami santap dari hari ke hari. Ada peluh dan darah dalam tiap suapan kami. Ada sakit yang tidak pernah Bapak ceritakan dalam setiap halaman buku-buku sekolah kami. Ada letih tak Terperi dibalik pakaian dan sepatu baru kami. Ada tangis yang sengaja bapak telan, demi kelangsungan hidup dan masa depan kami. Bahkan mungkin Bapak sudah mengubur sendiri semua keinginannya demi kami.

Karena Bapak akan lebih kecewa jika tidak melihat kami tertawa bahagia didekatnya. 


Kini aku anak sulungnya, hanya bisa menggambarkan Bapak kepada semua orang, tanpa bisa menghadirkannya. Aku yang pernah menjadi saksi bagaimana getirnya hidup sanggup kami jalani karena Bapak, dan Bapakpun kuat karena memiliki kami. Namun sayang, takdir tidak pernah bisa kita tebak akan membawa hidup kita kemana, karena kini kami sudah tidak bersama.

Seharusnya Bapak menjabat tangan suamiku dihadapan penghulu Sa'at itu, namun Bapak tidak hadir.

Seharusnya Bapak hadir sa'at kami sedang membangun rumah tangga, sa'at sulitnya menyatukan dua kepala. Seharusnya Bapak menyaksikan bagaimana kami menjalani hidup dari hari ke hari.

Seharusnya Bapak hadir sa'at kelahiran anak-anak ku, dan ikut dalam pertumbuhan mereka. Tapi Bapak tidak ada, karena kami sudah tidak memilikinya.


Seandainya kami punya kesempatan mengganti Baju Koko yang usang, membawakan Bapak sarung baru dengan kemasan kotak yang Akan Bapak bawa Jum'atan. Seandainya jam tangan dan dompet lusuh Bapak bisa kami ganti dengan yang lebih baik. Seandainya bisa kami bawakan semangkok bakso dengan porsi penuh. Juga menyantap martabak Mesir H. Wan langsung digerobaknya, yang biasanya hanya bisa Bapak lirik dari seberang toko buku, karena kotak pensil baru kami jauh lebih menjanjikan kebahagiaan bagi Bapak. Seandainya Bapak punya waktu yang panjang sehingga senja dan rentamu adalah milikku, tentu rindu tak akan sepedih ini.


"Alloohummaghfirlii waliwaalidayya warham humma kamaa rabbayaa nii shaghiiraa."

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil.”


RINDU

 Tidak terasa sudah dua tahun menjadi guru, memang belum lama. Bahkan bisa dibilang pengabdianku dibidang pendidikan baru saja dimulai. Aku baru saja menyelesaikan empat  semester yang luar biasa dalam tahun – tahun pertamaku. Namun yang menarik adalah berhadapan langsung dengan peserta didik setiap harinya membuatku merasa “kaya”. Mengapa“kaya”??? Karena mereka datang dari latar belakang berbeda, bahkan beragam cerita. Disana ada bahagia, tawa, perjuangan, haru, pahit dan getir dunia. Dan ini salah satunya.

Mungkin ini mewakili banyak anak-anak bernasib sama dibelahan dunia berbeda, dimana seorang anak harus kehilangan kedua orang tuanya bahkan sebelum mereka beranjak remaja. Hidup ditengah himpitan ekonomi keluarga yang tidak berada, ditambah sedikit konflik keluarga, membuat hidup Rindu berlalu seperti drama India. Ya…Rindu, begitu kami menyebutnya.

Rindu yang dua bersaudara diasuh langsung oleh keluarga kandung ibunya. Tinggal dirumah sederhana bersama nenek, tante dan omnya. Hari – hari Rindu sedikit berbeda dengan anak-anak remaja pada umumnya. Jaman canggih begini pastilah sibuk menggoyangkan jari mereka di layar gadget. Mencari informasi terkini, main games, mengedit video dan tentu mengerjakan tugas sekolah. Rindu juga, tapi diselingi dengan bersih-bersih rumah, masak, cuci piring, cuci baju dan tugas rumah lainnya. Bahkan terkadang lisan keluarga yang kurang ramah terasa sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, terasa manusiawi jika Rindu merasa kurang berkenan dengan itu semua, namun Rindu sabar dengan semuanya dan hanya bisa menerima.

Dengan status yatim piatu dari keluarga sederhana, tentu Rindu menjadi perhatian masyarakat sekitar. Rindu termasuk dalam daftar prioritas penerima bantuan, baik itu sedekah, zakat maupun program beasiswa di sekolah, dan tentu daja Rindu memenuhi kriteria untuk itu semua. Mereka yang memberi bantuan berharap dapat meringankan keluarga dalam memenuhi kebutuhan Rindu dan Adiknya. Namun Rindu yang polos terkadang mungkin merasa iba dan ingin pula membantu keluarga. Jadilah beberapa kali bantuan tersebut dijadikan memenuhi kebutuhan pokok dan lainnya dalam keluarga Rindu. Tidak salah memang, ini mungkin terjadi karena bagi Rindu itu hal biasa karena memang mereka tinggal di satu atap yang  sama. Kemana lagi hidup akan Rindu bawa? Selain bayangan dirinya, yang rindu punya hanyalah mereka yang Rindu sebut keluarga. Siapa yang tau kepedihan Rindu, siapa yang sadar nestapa Rindu menahan keinginan merasakan belaian orang tua kandungnya.

Kemudian aku kembali ke masa dimana umurku seperti Rindu. Aku yang tidak pernah absen uang jajan ke sekolah, tidak pernah pinjam buku teman karena tidak punya atau tidak mampu beli sendiri, aku yang setiap tahun ajaran baru selalu beli sepatu baru, tas baru, kotak pensil dan isinya pun selalu baru. Aku yang selalu cukup oleh orang tua ku sa’at itu. Tidak begitu dengan Rindu, seketika aku membayangkan Rindu adalah diriku. Ditengah lamunanku tentang Rindu, udara dingin mencuri masuk dari balik jendela dan berebut menyentuh pipi pucatku. Angin itu seakan menggodaku, membuatku harus mengaku bahwa aku malu, Malu pada Rindu. Kita malu pada Rindu. Betapa mudahnya kita mengeluh ditengah-tengah kenyamanan hidup. Terkadang kita selalu mengedepankan hanya sekedar keinginan dari pada kebutuhan.

Perjalanan hidup rindu yang masih belia mampu membuatku yang sudah kepala tiga, bahkan kita semua sadar bahwa perjalanan hidup bisa kita petik dari mana dan siapa saja. Aku yang menghadapi masalah peserta didik dalam proses belajar mengajar mau tidak mau harus mengulik latar belakang kehidupan mereka. Sehingga terkuaklah salah satunya kehidupan Rindu. Seminggu yang lalu aku bertemu Rindu, remaja mungil berkulit sawo matang yang murah senyum ternyata menyimpan cerita hidup yang tidak kita sangka-sangka. Inilah yang ku maksud “kaya”, kita mungkin tidak mengalaminya, kita tidak merasakannya. Namun hidup Rindu membuat kita seketika membuncahkan rasa syukur akan hidup yang sudah kita jalani.

Diluar sana masih banyak Rindu dengan latar belakang, usia dan cerita berbeda dalam menghadapi pongahnya dunia dengan penghuninya. Semoga Rindu yang aku, kau, dan mereka kenal akan tumbuh semakin kokoh dan kuat. Pahit dan getir hari ini akan menjadi awal cerita sukses mereka nanti, yang akan mereka bagi kembali. Aku percaya Allah SWT tidak pernah sia-sia, bahwa Rindu di ciptakan beserta jalan hidupnya pasti dengan perlindungan dariNya.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta goncangan(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

QS : Al-Baqarah 214

Pejuang Proklamasi dan Sepatu yang Tak Terbeli

                                                                                                                                   Muhammad ...