Kamis, 28 September 2023

RINDU

 Tidak terasa sudah dua tahun menjadi guru, memang belum lama. Bahkan bisa dibilang pengabdianku dibidang pendidikan baru saja dimulai. Aku baru saja menyelesaikan empat  semester yang luar biasa dalam tahun – tahun pertamaku. Namun yang menarik adalah berhadapan langsung dengan peserta didik setiap harinya membuatku merasa “kaya”. Mengapa“kaya”??? Karena mereka datang dari latar belakang berbeda, bahkan beragam cerita. Disana ada bahagia, tawa, perjuangan, haru, pahit dan getir dunia. Dan ini salah satunya.

Mungkin ini mewakili banyak anak-anak bernasib sama dibelahan dunia berbeda, dimana seorang anak harus kehilangan kedua orang tuanya bahkan sebelum mereka beranjak remaja. Hidup ditengah himpitan ekonomi keluarga yang tidak berada, ditambah sedikit konflik keluarga, membuat hidup Rindu berlalu seperti drama India. Ya…Rindu, begitu kami menyebutnya.

Rindu yang dua bersaudara diasuh langsung oleh keluarga kandung ibunya. Tinggal dirumah sederhana bersama nenek, tante dan omnya. Hari – hari Rindu sedikit berbeda dengan anak-anak remaja pada umumnya. Jaman canggih begini pastilah sibuk menggoyangkan jari mereka di layar gadget. Mencari informasi terkini, main games, mengedit video dan tentu mengerjakan tugas sekolah. Rindu juga, tapi diselingi dengan bersih-bersih rumah, masak, cuci piring, cuci baju dan tugas rumah lainnya. Bahkan terkadang lisan keluarga yang kurang ramah terasa sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, terasa manusiawi jika Rindu merasa kurang berkenan dengan itu semua, namun Rindu sabar dengan semuanya dan hanya bisa menerima.

Dengan status yatim piatu dari keluarga sederhana, tentu Rindu menjadi perhatian masyarakat sekitar. Rindu termasuk dalam daftar prioritas penerima bantuan, baik itu sedekah, zakat maupun program beasiswa di sekolah, dan tentu daja Rindu memenuhi kriteria untuk itu semua. Mereka yang memberi bantuan berharap dapat meringankan keluarga dalam memenuhi kebutuhan Rindu dan Adiknya. Namun Rindu yang polos terkadang mungkin merasa iba dan ingin pula membantu keluarga. Jadilah beberapa kali bantuan tersebut dijadikan memenuhi kebutuhan pokok dan lainnya dalam keluarga Rindu. Tidak salah memang, ini mungkin terjadi karena bagi Rindu itu hal biasa karena memang mereka tinggal di satu atap yang  sama. Kemana lagi hidup akan Rindu bawa? Selain bayangan dirinya, yang rindu punya hanyalah mereka yang Rindu sebut keluarga. Siapa yang tau kepedihan Rindu, siapa yang sadar nestapa Rindu menahan keinginan merasakan belaian orang tua kandungnya.

Kemudian aku kembali ke masa dimana umurku seperti Rindu. Aku yang tidak pernah absen uang jajan ke sekolah, tidak pernah pinjam buku teman karena tidak punya atau tidak mampu beli sendiri, aku yang setiap tahun ajaran baru selalu beli sepatu baru, tas baru, kotak pensil dan isinya pun selalu baru. Aku yang selalu cukup oleh orang tua ku sa’at itu. Tidak begitu dengan Rindu, seketika aku membayangkan Rindu adalah diriku. Ditengah lamunanku tentang Rindu, udara dingin mencuri masuk dari balik jendela dan berebut menyentuh pipi pucatku. Angin itu seakan menggodaku, membuatku harus mengaku bahwa aku malu, Malu pada Rindu. Kita malu pada Rindu. Betapa mudahnya kita mengeluh ditengah-tengah kenyamanan hidup. Terkadang kita selalu mengedepankan hanya sekedar keinginan dari pada kebutuhan.

Perjalanan hidup rindu yang masih belia mampu membuatku yang sudah kepala tiga, bahkan kita semua sadar bahwa perjalanan hidup bisa kita petik dari mana dan siapa saja. Aku yang menghadapi masalah peserta didik dalam proses belajar mengajar mau tidak mau harus mengulik latar belakang kehidupan mereka. Sehingga terkuaklah salah satunya kehidupan Rindu. Seminggu yang lalu aku bertemu Rindu, remaja mungil berkulit sawo matang yang murah senyum ternyata menyimpan cerita hidup yang tidak kita sangka-sangka. Inilah yang ku maksud “kaya”, kita mungkin tidak mengalaminya, kita tidak merasakannya. Namun hidup Rindu membuat kita seketika membuncahkan rasa syukur akan hidup yang sudah kita jalani.

Diluar sana masih banyak Rindu dengan latar belakang, usia dan cerita berbeda dalam menghadapi pongahnya dunia dengan penghuninya. Semoga Rindu yang aku, kau, dan mereka kenal akan tumbuh semakin kokoh dan kuat. Pahit dan getir hari ini akan menjadi awal cerita sukses mereka nanti, yang akan mereka bagi kembali. Aku percaya Allah SWT tidak pernah sia-sia, bahwa Rindu di ciptakan beserta jalan hidupnya pasti dengan perlindungan dariNya.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta goncangan(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

QS : Al-Baqarah 214

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pejuang Proklamasi dan Sepatu yang Tak Terbeli

                                                                                                                                   Muhammad ...