Jumat, 07 Juni 2024

Pejuang Proklamasi dan Sepatu yang Tak Terbeli

    

                                                                                                          Muhammad Hatta    

            Muhammad Athar, lahir 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Namun begitu Ayahnya adalah keturunan ulama dari Batuhampar juga merupakan tokoh kesehatan masyarakat dan pejuang yang punya dua gelar doktor. Pertama Doctor Medicinae Interne Ziekten dari universitas Utrecht, dan Doctor of Public Health (DPH) dari Universitas Johns Hopkins, Amerika Serikat. Namanya kini diabadikan menjadi sebuah nama Rumah Sakit di Kota Padang, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil.

 

                                                                                                     Mohammad Djamil

            Saya rasa pribahasa "buah jatuh tak jauh dari pohonnya" sangat cocok untuk ayah dan anak ini. Karena Muhammad Athar yang kita kenal dengan Moh. Hatta atau Muhammad Hatta atau Bung Hatta adalah seorang pejuang proklamasi. Yang namanya diabadikan menjadi nama jalan utama dan bandara terbesar di negeri ini, wajahnya juga ada pada pecahan uang kertas yang nilainya paling besar. Karena Bung Hatta adalah pejuang proklamasi, bapak koperasi, ketua Palang Merah Indonesia ( PMI ) pertama di Indonesia, perdana menteri Indonesia ke-3, menteri luar negeri pada Republik Indonesia Serikat (RIS), dan wakil presiden pertama republik ini.

            Dengan jabatan yang pernah ia miliki tentu beliau adalah orang yang punya kekuasaan, punya kewenangan dan disegani banyak orang. Mobil mewah, harta berlimpah, hidup serba mudah, seperti banyak pejabat pada umumnya. Tapi tidak berlaku bagi Bung Hatta, beliau selalu memegang teguh integritas dan komitmen. Saya pernah membaca artikel yang menceritakan bagaimana Bung Hatta tak mampu membayar tagihan listrik dengan uang pensiunnya. Bahkan Bung Hatta sampai mengirimkan surat kepada Pemrov DKI kala itu untuk bersedia memotong uang pensiunnya. Namun Gubernur DKI Ali Sadikin kemudian melimpahkan pembayaran listrik dan air rumah Bung Hatta kepada Pemrov DKI. Terharu membacanya kala itu, betapa terhormat dan disegani Bung Hatta. Tapi wajar saja Bung Hatta mendapatkan semua fasilitas itu mengingat begitu banyak yang sudah beliau sumbangkan kepada negara. 

         Bung Hatta menikah dengan Rahmi tepat setelah 3 bulan proklamasi, dengan bermodalkan mas kawin sebuah buku karangannya sendiri yang ditulis ketika dibuang oleh penjajah Belanda ke Banda Neira Maluku, Alam Pikiran Yunani judulnya. Ia menikah dalam jabatan Wakil Presiden Indonesia, namun orang nomor dua di negeri ini tak mampu membelikan mesin jahit untuk istrinya, karena nilai rupiah anjlok saat itu Rp. 1.000,- menjadi Rp. 1,- . Maka pupuslah harapan ibu Rahmi yang telah menabung cukup lama untuk memiliki mesin jahit. Jika saja Bung Hatta bercerita dikantornya maka dalam hitungan menit akan diantar oleh para pengusaha yang mendengar.



               Bung Hatta juga manusia biasa, sama seperti kita yang punya  keinginan, beliau ingin sepatu yang sangat bagus bermerak Bally. Namun sepatu itu tak pernah bisa ia miliki. Setelah kematiannya ditemukan potongan iklan koran sepatu yang digunting rapi dan disimpan dalam dompetnya. Karena uang tabungannya selalu ia pakai untuk membantu orang lain sehingga tak pernah cukup untuk membeli sepasang sepatu. Sungguh menyayat hati.

            Pejabat hari ini akan sangat mudah barter keuntungan atau mungkin jual beli jabatan. Namun tidak bagi penguasa yang satu ini. Bung Hatta tidak pernah memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Bung Hatta pun rela melepaskan jabatan karena jalan politik yang diambil Soekarno tak sesuai lagi dengannya. Bung Hatta dengan lantang memilih jalan oposisi, namun mereka tetap saling menghargai secara personal tak pernah menyerang pribadi.



            Dua tahun yang lalu dalam sebuah acara TV nasional pernah mengundang salah seorang anak kandung Bung Hatta, Ibu Meutia Hatta. Ibu Meutia membawa secarik kertas segel tulisan tangan Bung Hatta. Jika kebanyakan manusia menulis wasiat berisi pembagian harta untuk keluarga namun Bung Hatta berbeda, beliau menulis wasiat untuk pemakamannya. " Apabila saya meninggal dunia, saya ingin dikuburkan di Jakarta, tempat diproklamasikan Indoneisa merdeka. Saya tidak ingin dikuburkan di Taman Makam Pahlawan (Kalibata), saya ingin dikubur di tempat kuburan rakyat biasa, yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya "

               Sosok pejuang minang yang selalu teguh memegang prinsip dan norma, berintegritas tinggi, dermawan dan taat pada agama. Hidup Bung Hatta begitu kontras dengan manusia hari ini, akan sulit kita temukan tokoh sekelas Bung Hatta dengan pemikiran jenius namun bersahaja dan sederhana kehidupannya. Tak pernah haus harta dan kuasa, meski merdeka satu negara adalah berkat jasa dan pemikirannya.


Febria erisa
Dikutip dari berbagai sumber

Jumat, 24 Mei 2024

Boneka yang Berubah Bentuk

 .com/img/a/

    Ketika berusia 40 tahun, Franz Kafka (1883-1924) yang memutuskan tidak menikah dan tidak memiliki anak pernah
mengunjungi taman di Kota Berlin. Di taman itu, ia bertemu seorang anak perempuan yang sedang menangis karena
kehilangan boneka kesayangannya. Kafka membantu sang gadis kecil mencari tetapi usaha tersebut tidak membuahkan
hasil. Lantas, Kafka sepakat dengan si gadis kecil untuk bertemu lagi di taman itu esok hari agar bisa mencari bonekanya
yang hilang.
    Keesokan harinya saat Kafka dan si gadis kecil masih gagal menemukan boneka tersebut, Kafka memberikan surat
yang “ditulis” oleh bonekanya. Dalam sepucuk surat itu, si boneka berkata, “Jangan menangis. Aku sedang pergi
menjelajahi seisi dunia. Aku akan mengirimkanmu surat tentang petualanganku.” Kisah ini kemudian berlanjut hingga
menjelang akhir hidup Kafka. 
    Setiap kali Kafka bertemu dengan si gadis kecil, Kafka menulis surat yang mengisahkan tentang petualangan si boneka
berkeliling dunia. Kafka berusaha menulis dengan bahasa sederhana supaya mudah dipahami si gadis kecil hingga
gadis itu merasa sangat takjub. Suatu hari, Kafka kembali ke Berlin dan memberi gadis kecil sebuah boneka. Dia lalu
berkata "ini tidak terlihat seperti bonekaku,” ketika melihat boneka yang dibawa Kafka.
Mendengar perkataan itu, Kafka lalu menyerahkan sepucuk surat yang “ditulis” si boneka. Isinya sebuah kalimat,
“Perjalanan telah mengubahku (travels has changed me)” Si gadis kecil lantas memeluk boneka barunya kemudian
membawanya pulang dengan perasaan gembira. Setahun kemudian, Kafka meninggal dunia.

    Beberapa tahun berselang, gadis kecil yang sudah dewasa itu menemukan surat dalam bonekanya. Sebuah surat kecil
lengkap dengan tanda tangan Kafka yang berbunyi,
“Segala sesuatu yang kamu cintai mungkin bisa hilang, tetapi pada akhirnya cinta akan kembali dengan cara yang lain.”

Franz Kafka ( 3 Juli 1883 - 3 Juni 1924 ) 

Fakta tentang Kafka
Cerita Kafka, gadis kecil dan boneka yang hilang telah diceritakan oleh berbagai sumber dibelahan dunia. Konon Dora
Diamant, teman di akhir hidup Kafka lah yang pertama kali menceritakannya. Surat - surat Kafka memang tidak
pernah ditemukan secara fisik. Namun cerita Kafka memiliki sejarah terhormat dikalangan sastrawan, dan telah
diceritakan dalam banyak bahasa dan versi berbeda. 

Sumber :
https://berandakota.com/2020/08/19/kafka-dan-surat-surat-boneka/
https://www.arlt-foundation.org/blog-post/kafka-and-the-doll-traveller https://takselesai.com/2021/12/16/kafka-gadis-kecil-dan-surat-dari-boneka/ https://www.snopes.com/fact-check/franz-kafka-doll-girl-story/

Sabtu, 18 Mei 2024

Si Doel Anak Sekolahan "tapi bodoh"

 

Doel hanya bisa terdiam dan menunduk, setelah beberapa kali memberikan pengertian bahwa Psikotes yang akan dijalaninya besok hanyalah formalitas dari perusahaan. Dengan keras babe tetap pada pendiriannya, jika Psikotes hanya untuk menguji kejujuran si Doel maka tidak usah datang ke perusahaan itu. Karena babe selalu menanamkan kejujuran pada anak-anaknya, "jujur, jujur, jujur, biar hidup kite kagak hancur". Begitu kira-kira jawaban babe Sabeni dengan logat kental betawi. 

Seketika, aku yang sedang menonton pun emosi melihat si Doel terlihat menyerah. Seolah si Doel yang di juluki si tukang insinyur itu kehilangan ilmunya. Kalah dengan babenya yang sama sekali tidak mengerti apa-apa, bahkan tulis baca saja tidak bisa. Bukankah seharusnya si Doel yang keras menjelaskan bahwa ini penting untuk diikuti agar bisa diterima menjadi pegawai di Perusahaan tersebut.


Ada lagi adegan yang lebih membuat penonton darah tinggi. Ketika Doel membawa pulang selembar surat dengan wajah sumringah, seisi rumah terasa meriah ketika Doel mengabarkan Doel diterima kerja di perusahaan dan ditempatkan dibagian mesin, setelah berbulan-bulan melayangkan surat lamaran diberbagai perusahaan. Namun Babe kembali menentang dengan keras karena jauh ditengah laut, di Kepulauan Natuna. Alasan Babe sangat sederhana, si Doel anak laki-laki satu-satunya. Jika Babe, Nyak atau Atun adik si Doel sakit siapa yang akan mengabari? Jaraknya terlalu jauh dari Jakarta. Si Doel kembali diam dan menunduk, sepeti biasa. Namun kali ini sedikit kecewa.


Aku yang menonton geram, ingin rasanya ku bantu Doel menjelaskan. Mungkin perasaan ku tak jauh beda dengan penonton lainnya. Aku merasa Doel terlalu "lunak". Bukankah selama ini Babe ingin betul Doel diterima bekerja di perusahaan besar, kemudian ditempatkan dibagian mesin. Tapi setelah ada kesempatan dan panggilan kerja malah Babe sendiri yang banyak persyaratan.

Itu pemikiranku ketika menonton episode Si Doel Anak Sekolah pertama kali, ketika aku masih duduk di bangku SMP. Sinetron yang di sutradarai Rano Karno itu masih jadi favorit ku sampai kini. Aku dan anak-anak ku masih sering menontonnya lewat kanal Youtube ataupun Tiktok. 

Aku kemudian paham bahwa Doel hanya mempertahankan satu hal. Doel bisa saja menjelaskan panjang lebar apa arti formalitas dalam Psikotes yang akan dia jalani. Bahkan mungkin saja bisa di tes ke bang Mandra dihadapan Babe, karena Doel pun cukup ilmu untuk itu. Doel juga mampu mengambarkan sejauh apa Pulau Natua, dan bisa sebutkan besaran gajinya supaya Babe luluh. Tapi Doel lebih memilih dianggap "bodoh" oleh penonton dari pada meninggikan suara dihadapan orang tuanya. Babe dan Nyak si Doel memang tak pandai tulis baca, mereka pun tak pernah bepergian ke luar Jakarta, apalagi ke Natuna. Namun satu hal yang Doel percaya bahwa orang tuanya berhak atas adab yang baik darinya. Itu saja!

Sejenak aku ingat Kafka dan boneka, aku seperti sedang bercermin saja. Sudut pandangku berubah seiring waktu dan usia. Seperti bentuk boneka yang diberikan Kafka, perjalanan dan cerita dalam surat-suratnya pun merubah bentuknya.

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ. 

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Umar ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya,’” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Sumber: https://www.nu.or.id/tasawuf-akhlak/9-hadits-tentang-keutamaan-berbakti-pada-orang-tua-KrRhi

Sabtu, 04 Mei 2024

Seperti Ini




Merayap, berkumpul, lebur jadi satu dibawah bumi bercelah.

Terbang, menjalar berarak pongah dibawah naungan sejuk biru kanvas bumi

Bentuknya berubah -  ubah

Lalu pecah, berderai, berserakan diantara sahutan gemuruh

Sesa'at sunyi tenggelam...

Sepi yang lelah terlelap berselimut kelam


Perlahan hujan yang memikat bersenandung dalam irama rintik

Bernada datar dalam pagutan suasana lembab

Menetes, gemulai bermain sebelum jatuh

Berdecak, tergenang, kemudian mengalir jauh

Jauh....kemana dia mau


Risa

Kahumpuang, 9 November 2009

Kamis, 28 September 2023

PRIA IDAMAN



Butuh banyak kekuatan menceritakan ini, cerita yang terkadang membuat suasana hati menjadi resah, seakan-akan aku bukanlah manusia yang bersyukur dengan semua yang ku miliki sekarang.  Sesekali, ku buka kotak usang bersemayamkan kenangan lama, ketika kami berjalan bersama di ujung senja merah penuh romansa. Ketika nelangsa berubah menjadi sorai gembira dan gundah pun berganti kidung sarat makna. Sa'at pundak itu siap menyambut lelah, seketika sedih terbasuh hangat pelukan.


Dia adalah tentang hidup dengan perjuangan panjang, tentang mimpi yang remuk dan mati dalam genggaman, demi menghidupkan keinginan jiwa yang lain.

Dia adalah pahlawan bagi seorang bocah perempuan, Kusebut dia BAPAK.


Bapak hanya pria biasa, sekilas tak ada yang istimewa.

Dengan seragam merah putih yang hanya empat tahun saja menemaninya, sudah jelas bapak bukan pria berpendidikan tinggi atau akademisi. Sampai hari ini tak pernah kutemukan selembar Ijazah bertuliskan namanya. Bapak juga bukan pria berada jika Motor Honda cub 70 alias Astrea bulan disingkat asbul, menjadi tunggangannya sejak bujangan. Tapi Bapak memberiku sebuah sepeda motor (tentu lebih bagus dari motor Bapak) supaya lebih leluasa pergi bekerja.

Bapak tidak pernah punya telepon genggam apalagi smartphone yang canggih itu. Bapak juga hanya punya satu buah dompet kulit dengan bau yang sangat khas dan lusuh, yang sudah bertahun-tahun tak pernah diganti. Tak satupun barang mewah yang Bapak ku punya. Seingatku, Bapak hanya punya satu buah jam tangan yang sudah kusam besinya, retak dan penuh debu dalam lingkarannya. Dan jam tangan itu hanya  akan dipakai ketika hari-hari penting dan istimewa saja.


Dengan kesederhanaan yang melekat dengan dirinya, maka mustahil bagi kami sekeluarga hidup bermewah-mewah. Namun sebagai Pahlawan superior, tentu tak kan mungkin Bapak biarkan kami tidak bahagia. Bapak selalu punya cara melakukan itu semua. Meski jajanan termewah kami hanya semangkok bakso atau sepiring sate yang dibeli dengan porsi setengahnya, supaya bisa cukup untuk kita semua. Bahkan martabak Mesir H. Wan yang tersohor itupun juga sama nasibnya. Tapi hebatnya Bapak, kami tidak pernah merasa kelaparan dan kekurangan.

Bapak juga selalu membuat hari-hari pertama sekolah kami bersemangat pada setiap tahunnya. Karena pasti akan ada kotak pensil baru lengkap dengan isiannya. Sepatu sekolah dan tas baru akan Bapak pastikan awet dan tahan banting anti badai petir selama setahun penuh. Jangan harap semua itu akan terlihat lucu dengan model feminin, karena tidak mungkin bagi kami membelinya kembali ditahun yang sama, semua sudah terukur dengan baik oleh Bapak. Pada sa'at pembagian rapor juga menjadi penentu, karena perolehan angka sembilan dan delapan nilai rapor kami berbanding lurus dengan jumlah uang yang akan kami peroleh. Begitulah cara Bapak menghargai kerja keras dan memotivasi belajar kami dan juga rasa terima kasih Bapak kepada kami yang telah mengobati rasa penatnya. Wajah Bapak akan berbinar ketika angka sembilan muncul dirapor kami, Bapak akan senyum dan menatap dalam.

Aku ingat Bapak pernah membawaku ke toko buku untuk membeli kamus Bahasa Indonesia, hanya karena aku bertanya arti sebuah kata malam itu. Bapak yang tidak ingin mati gaya karena tidak tahu maknanya, dan tentu saja Bapak tidak ingin aku seperti dirinya. Mungkin Bapak tidak tahu maknanya tapi Bapak akan pastikan ditangannya selalu ada solusi.

Kami pun selalu dibawa berlibur setiap tahunnya, ibarat pegawai kantoran, Bapak akan ambil cuti dari kerjanya untuk kami liburan keluarga nonton pacuan kuda, yang berjarak tiga kilometer dari rumah kami. Bapak sangat bersemangat jika hari itu tiba, kami dibawa serta dan Bapak sangat gembira. Bahkan sampai seragamku berubah putih abu-abu aku tetap nonton pacuan kuda, bersama Bapak. Pakaian barupun juga akan kami dapat satu kali dalam satu tahun, baju lebaran. Bapak akan ajak serta kami berkeliling toko yang sama setiap tahunnya, bahkan toko dan pemiliknya sampai sekarang masih ada. Dan Bapak selalu menawar diangka yang tepat, karena semua sudah terukur dengan baik.


Bapak telah bekerja keras tanpa jeda untuk itu semua. Seringkali ku lihat kuku kaki dan tangannya menghitam, bekas pukulan palu yang salah sasaran. Kulit tangan dan kaki yang kasar, legamnya kulit kering yang bermandi matahari, menjadi saksi apa yang kami santap dari hari ke hari. Ada peluh dan darah dalam tiap suapan kami. Ada sakit yang tidak pernah Bapak ceritakan dalam setiap halaman buku-buku sekolah kami. Ada letih tak Terperi dibalik pakaian dan sepatu baru kami. Ada tangis yang sengaja bapak telan, demi kelangsungan hidup dan masa depan kami. Bahkan mungkin Bapak sudah mengubur sendiri semua keinginannya demi kami.

Karena Bapak akan lebih kecewa jika tidak melihat kami tertawa bahagia didekatnya. 


Kini aku anak sulungnya, hanya bisa menggambarkan Bapak kepada semua orang, tanpa bisa menghadirkannya. Aku yang pernah menjadi saksi bagaimana getirnya hidup sanggup kami jalani karena Bapak, dan Bapakpun kuat karena memiliki kami. Namun sayang, takdir tidak pernah bisa kita tebak akan membawa hidup kita kemana, karena kini kami sudah tidak bersama.

Seharusnya Bapak menjabat tangan suamiku dihadapan penghulu Sa'at itu, namun Bapak tidak hadir.

Seharusnya Bapak hadir sa'at kami sedang membangun rumah tangga, sa'at sulitnya menyatukan dua kepala. Seharusnya Bapak menyaksikan bagaimana kami menjalani hidup dari hari ke hari.

Seharusnya Bapak hadir sa'at kelahiran anak-anak ku, dan ikut dalam pertumbuhan mereka. Tapi Bapak tidak ada, karena kami sudah tidak memilikinya.


Seandainya kami punya kesempatan mengganti Baju Koko yang usang, membawakan Bapak sarung baru dengan kemasan kotak yang Akan Bapak bawa Jum'atan. Seandainya jam tangan dan dompet lusuh Bapak bisa kami ganti dengan yang lebih baik. Seandainya bisa kami bawakan semangkok bakso dengan porsi penuh. Juga menyantap martabak Mesir H. Wan langsung digerobaknya, yang biasanya hanya bisa Bapak lirik dari seberang toko buku, karena kotak pensil baru kami jauh lebih menjanjikan kebahagiaan bagi Bapak. Seandainya Bapak punya waktu yang panjang sehingga senja dan rentamu adalah milikku, tentu rindu tak akan sepedih ini.


"Alloohummaghfirlii waliwaalidayya warham humma kamaa rabbayaa nii shaghiiraa."

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil.”


RINDU

 Tidak terasa sudah dua tahun menjadi guru, memang belum lama. Bahkan bisa dibilang pengabdianku dibidang pendidikan baru saja dimulai. Aku baru saja menyelesaikan empat  semester yang luar biasa dalam tahun – tahun pertamaku. Namun yang menarik adalah berhadapan langsung dengan peserta didik setiap harinya membuatku merasa “kaya”. Mengapa“kaya”??? Karena mereka datang dari latar belakang berbeda, bahkan beragam cerita. Disana ada bahagia, tawa, perjuangan, haru, pahit dan getir dunia. Dan ini salah satunya.

Mungkin ini mewakili banyak anak-anak bernasib sama dibelahan dunia berbeda, dimana seorang anak harus kehilangan kedua orang tuanya bahkan sebelum mereka beranjak remaja. Hidup ditengah himpitan ekonomi keluarga yang tidak berada, ditambah sedikit konflik keluarga, membuat hidup Rindu berlalu seperti drama India. Ya…Rindu, begitu kami menyebutnya.

Rindu yang dua bersaudara diasuh langsung oleh keluarga kandung ibunya. Tinggal dirumah sederhana bersama nenek, tante dan omnya. Hari – hari Rindu sedikit berbeda dengan anak-anak remaja pada umumnya. Jaman canggih begini pastilah sibuk menggoyangkan jari mereka di layar gadget. Mencari informasi terkini, main games, mengedit video dan tentu mengerjakan tugas sekolah. Rindu juga, tapi diselingi dengan bersih-bersih rumah, masak, cuci piring, cuci baju dan tugas rumah lainnya. Bahkan terkadang lisan keluarga yang kurang ramah terasa sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, terasa manusiawi jika Rindu merasa kurang berkenan dengan itu semua, namun Rindu sabar dengan semuanya dan hanya bisa menerima.

Dengan status yatim piatu dari keluarga sederhana, tentu Rindu menjadi perhatian masyarakat sekitar. Rindu termasuk dalam daftar prioritas penerima bantuan, baik itu sedekah, zakat maupun program beasiswa di sekolah, dan tentu daja Rindu memenuhi kriteria untuk itu semua. Mereka yang memberi bantuan berharap dapat meringankan keluarga dalam memenuhi kebutuhan Rindu dan Adiknya. Namun Rindu yang polos terkadang mungkin merasa iba dan ingin pula membantu keluarga. Jadilah beberapa kali bantuan tersebut dijadikan memenuhi kebutuhan pokok dan lainnya dalam keluarga Rindu. Tidak salah memang, ini mungkin terjadi karena bagi Rindu itu hal biasa karena memang mereka tinggal di satu atap yang  sama. Kemana lagi hidup akan Rindu bawa? Selain bayangan dirinya, yang rindu punya hanyalah mereka yang Rindu sebut keluarga. Siapa yang tau kepedihan Rindu, siapa yang sadar nestapa Rindu menahan keinginan merasakan belaian orang tua kandungnya.

Kemudian aku kembali ke masa dimana umurku seperti Rindu. Aku yang tidak pernah absen uang jajan ke sekolah, tidak pernah pinjam buku teman karena tidak punya atau tidak mampu beli sendiri, aku yang setiap tahun ajaran baru selalu beli sepatu baru, tas baru, kotak pensil dan isinya pun selalu baru. Aku yang selalu cukup oleh orang tua ku sa’at itu. Tidak begitu dengan Rindu, seketika aku membayangkan Rindu adalah diriku. Ditengah lamunanku tentang Rindu, udara dingin mencuri masuk dari balik jendela dan berebut menyentuh pipi pucatku. Angin itu seakan menggodaku, membuatku harus mengaku bahwa aku malu, Malu pada Rindu. Kita malu pada Rindu. Betapa mudahnya kita mengeluh ditengah-tengah kenyamanan hidup. Terkadang kita selalu mengedepankan hanya sekedar keinginan dari pada kebutuhan.

Perjalanan hidup rindu yang masih belia mampu membuatku yang sudah kepala tiga, bahkan kita semua sadar bahwa perjalanan hidup bisa kita petik dari mana dan siapa saja. Aku yang menghadapi masalah peserta didik dalam proses belajar mengajar mau tidak mau harus mengulik latar belakang kehidupan mereka. Sehingga terkuaklah salah satunya kehidupan Rindu. Seminggu yang lalu aku bertemu Rindu, remaja mungil berkulit sawo matang yang murah senyum ternyata menyimpan cerita hidup yang tidak kita sangka-sangka. Inilah yang ku maksud “kaya”, kita mungkin tidak mengalaminya, kita tidak merasakannya. Namun hidup Rindu membuat kita seketika membuncahkan rasa syukur akan hidup yang sudah kita jalani.

Diluar sana masih banyak Rindu dengan latar belakang, usia dan cerita berbeda dalam menghadapi pongahnya dunia dengan penghuninya. Semoga Rindu yang aku, kau, dan mereka kenal akan tumbuh semakin kokoh dan kuat. Pahit dan getir hari ini akan menjadi awal cerita sukses mereka nanti, yang akan mereka bagi kembali. Aku percaya Allah SWT tidak pernah sia-sia, bahwa Rindu di ciptakan beserta jalan hidupnya pasti dengan perlindungan dariNya.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta goncangan(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

QS : Al-Baqarah 214

Pejuang Proklamasi dan Sepatu yang Tak Terbeli

                                                                                                                                   Muhammad ...