Jumat, 07 Juni 2024

Pejuang Proklamasi dan Sepatu yang Tak Terbeli

    

                                                                                                          Muhammad Hatta    

            Muhammad Athar, lahir 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Namun begitu Ayahnya adalah keturunan ulama dari Batuhampar juga merupakan tokoh kesehatan masyarakat dan pejuang yang punya dua gelar doktor. Pertama Doctor Medicinae Interne Ziekten dari universitas Utrecht, dan Doctor of Public Health (DPH) dari Universitas Johns Hopkins, Amerika Serikat. Namanya kini diabadikan menjadi sebuah nama Rumah Sakit di Kota Padang, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil.

 

                                                                                                     Mohammad Djamil

            Saya rasa pribahasa "buah jatuh tak jauh dari pohonnya" sangat cocok untuk ayah dan anak ini. Karena Muhammad Athar yang kita kenal dengan Moh. Hatta atau Muhammad Hatta atau Bung Hatta adalah seorang pejuang proklamasi. Yang namanya diabadikan menjadi nama jalan utama dan bandara terbesar di negeri ini, wajahnya juga ada pada pecahan uang kertas yang nilainya paling besar. Karena Bung Hatta adalah pejuang proklamasi, bapak koperasi, ketua Palang Merah Indonesia ( PMI ) pertama di Indonesia, perdana menteri Indonesia ke-3, menteri luar negeri pada Republik Indonesia Serikat (RIS), dan wakil presiden pertama republik ini.

            Dengan jabatan yang pernah ia miliki tentu beliau adalah orang yang punya kekuasaan, punya kewenangan dan disegani banyak orang. Mobil mewah, harta berlimpah, hidup serba mudah, seperti banyak pejabat pada umumnya. Tapi tidak berlaku bagi Bung Hatta, beliau selalu memegang teguh integritas dan komitmen. Saya pernah membaca artikel yang menceritakan bagaimana Bung Hatta tak mampu membayar tagihan listrik dengan uang pensiunnya. Bahkan Bung Hatta sampai mengirimkan surat kepada Pemrov DKI kala itu untuk bersedia memotong uang pensiunnya. Namun Gubernur DKI Ali Sadikin kemudian melimpahkan pembayaran listrik dan air rumah Bung Hatta kepada Pemrov DKI. Terharu membacanya kala itu, betapa terhormat dan disegani Bung Hatta. Tapi wajar saja Bung Hatta mendapatkan semua fasilitas itu mengingat begitu banyak yang sudah beliau sumbangkan kepada negara. 

         Bung Hatta menikah dengan Rahmi tepat setelah 3 bulan proklamasi, dengan bermodalkan mas kawin sebuah buku karangannya sendiri yang ditulis ketika dibuang oleh penjajah Belanda ke Banda Neira Maluku, Alam Pikiran Yunani judulnya. Ia menikah dalam jabatan Wakil Presiden Indonesia, namun orang nomor dua di negeri ini tak mampu membelikan mesin jahit untuk istrinya, karena nilai rupiah anjlok saat itu Rp. 1.000,- menjadi Rp. 1,- . Maka pupuslah harapan ibu Rahmi yang telah menabung cukup lama untuk memiliki mesin jahit. Jika saja Bung Hatta bercerita dikantornya maka dalam hitungan menit akan diantar oleh para pengusaha yang mendengar.



               Bung Hatta juga manusia biasa, sama seperti kita yang punya  keinginan, beliau ingin sepatu yang sangat bagus bermerak Bally. Namun sepatu itu tak pernah bisa ia miliki. Setelah kematiannya ditemukan potongan iklan koran sepatu yang digunting rapi dan disimpan dalam dompetnya. Karena uang tabungannya selalu ia pakai untuk membantu orang lain sehingga tak pernah cukup untuk membeli sepasang sepatu. Sungguh menyayat hati.

            Pejabat hari ini akan sangat mudah barter keuntungan atau mungkin jual beli jabatan. Namun tidak bagi penguasa yang satu ini. Bung Hatta tidak pernah memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Bung Hatta pun rela melepaskan jabatan karena jalan politik yang diambil Soekarno tak sesuai lagi dengannya. Bung Hatta dengan lantang memilih jalan oposisi, namun mereka tetap saling menghargai secara personal tak pernah menyerang pribadi.



            Dua tahun yang lalu dalam sebuah acara TV nasional pernah mengundang salah seorang anak kandung Bung Hatta, Ibu Meutia Hatta. Ibu Meutia membawa secarik kertas segel tulisan tangan Bung Hatta. Jika kebanyakan manusia menulis wasiat berisi pembagian harta untuk keluarga namun Bung Hatta berbeda, beliau menulis wasiat untuk pemakamannya. " Apabila saya meninggal dunia, saya ingin dikuburkan di Jakarta, tempat diproklamasikan Indoneisa merdeka. Saya tidak ingin dikuburkan di Taman Makam Pahlawan (Kalibata), saya ingin dikubur di tempat kuburan rakyat biasa, yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya "

               Sosok pejuang minang yang selalu teguh memegang prinsip dan norma, berintegritas tinggi, dermawan dan taat pada agama. Hidup Bung Hatta begitu kontras dengan manusia hari ini, akan sulit kita temukan tokoh sekelas Bung Hatta dengan pemikiran jenius namun bersahaja dan sederhana kehidupannya. Tak pernah haus harta dan kuasa, meski merdeka satu negara adalah berkat jasa dan pemikirannya.


Febria erisa
Dikutip dari berbagai sumber

Pejuang Proklamasi dan Sepatu yang Tak Terbeli

                                                                                                                                   Muhammad ...